C. CARA PEMBERIAN PUPUK
Dalam pemupukan dikenal istilah pemupukan langsung ke tanah dan pemupukan melalui daun. Pemupukan melalui tanah umumnya diberikan dalam bentuk butir, tepung, atau larutan sedangkan pemupukan melalui daun bisanya diberikan dalam bentuk larutan.pemupukan melalui daun bisanya hanya dilakukan dalm skala kecil, misalnya pembibitan.
Pemupukan melalui tanah dapat dilakukan melalui berbagai cara, yaitu : ( 1 ) langsung ditabur di atas permukan tanah di bawah tajuk pohon, ( 2 ) seperti cara pertama, tetapi tanahnya dicangkul ringan, ( 3 ) pupuk dibenam berapa tempat di sekitar pohon,(4) pupuk dibenam dalam alur atau parit dangkal di sekitar pohon atau memanjang sepanjang barisan tanaman.
Dari ke empat cara di atas cara pertama merupakan cara yang termurah. Cara ke tiga dan keempat merupakan cara paling aman ditinjau dari risiko ke mungkinan hilangnya hara – hara melalui erosi permukan tanah karena hanyut oleh hujan.
D. DOSIS PEMBERIAN PUPUK
1. Rekomendasi pemupukan pembibitan batang bawah
Waktu Pemupukan ( Bulan Setelah Ditanam Dilapangan ) Jenis Pupuk
Urea (kg/ha) SP 36 (kg/ha) MOP (kg/ha) Kieserit (kg/ha)
1
2
3
4
Selanjutnya setiap bulan sampai 1 bulan sebelum okulasi hijau dan 3 bulan sebelum okulasi cokelat 90
225
225
225
450 110
280
280
280
550 45
90
90
90
180 45
90
90
90
180
Ket : kieserit dapat dengan dolomite dengan dosis 1,5 kali
2. Rekomendasi pemupukan dipolybeg ukuran 40 cm x 25 cm
Waktu Pemupukan ( Bulan Setelah Ditanam Di polybag) Jenis Pupuk
Urea
(g/polybag) SP36
(g/polybag) KCL
(g/polybag) Kieserit
(g/polybag)
0 ( 1 minggu setelah tanam )
1
2
3
Dst setiap bulan 2
5
5
5
5 3
6
6
6
6
1
2
2
2
2
1
2
2
2
2
Ket : kieserite dapat diganti dolomite dengan dosis 1,5 kali
3. Rekomendasi Pemupukan Pada kebun Entres setiap tahun
Umur Tanaman ( Tahun ) Urea SP 36 KCL Kieserit Frekuensi Pemupukan
g/p/th
1
2
3
dst 30
30
60 30
40
40 25
30
40 10
10
15 2 kali/th
2 kali/th
2 kali/th
4. Rekomendasi Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan
Umur Tanaman Jenis Pupuk
Urea (g/p/th) SP 36 (g/p/th) KCL
(g/p/th) Kieserit
(g/p/th) Frekuensi Pemupukan
Pupuk Dasar - - - - -
1
2
3
4
5 250
250
250
300
300 150
250
250
250
250
100
200
200
250
250
50
75
100
100
100 6 kali / th
6 kali / th
6 kali / th
6 kali / th
6 kali / th
5. Rekomendasi Pemupukan pada tanaman Menghasilkan
Umur Jenis Pupuk
Urea (g/p/th) SP 36 (g/p/th) KCL
(g/p/th) Kieserit
(g/p/th) Frekuensi Pemupukan
6 – 15
16 – 25
> 25 sampai 2 tahun sebelum peremajaan 350
300
200 260
190
- 300
250
150 75
75
- 2 kali / th
2 kali / th
2 kali / th
6. Lokasi Penebaran Pupuk
Umur Tanaman
( Bulan Setelah Tanam ) Lokasi Penebaran Pupuk
1
3
6
9
12
18
24
28 – 36
37 – 48
> 49 Ditabur di sekeliling pohon, dengan jarak 10 cm – 30 cm dari pohon
Ditabur di sekeliling pohon, dengan jarak 20 cm – 50 cm dari pohon
Ditabur di sekeliling pohon, dengan jarak 30 cm – 65 cm dari pohon
Ditabur di sekeliling pohon, dengan jarak 40 cm – 70 cm dari pohon
Ditabur di sekeliling pohon, dengan jarak 50 cm – 80 cm dari pohon
Ditabur di sekeliling pohon, dengan jarak 60 cm – 90 cm dari pohon
Ditabur di sekeliling pohon, dengan jarak 70 cm – 100 cm dari pohon
Ditabur di sekeliling pohon, dengan jarak 90 cm – 110 cm dari pohon
Ditabur di sekeliling pohon, dengan jarak 90 cm – 125 cm dari pohon
Ditabur di sekeliling pohon, dengan jarak 90 cm – 150 cm dari pohon
7. Rekomendasi Pemupukan Tanaman Sela / Kacangan
Umur Tanaman Jenis dan Dosis Pupuk
Saat Penaburan Benih
2 minggu Setelah Berkecambah
2 bulan setelah penaburan
5 bulan setelah penaburan
Tahun ke 2 dilapangan
Tahun ke 3 dilapangan
Sp36 25kg/ha, dicampur dengan benih
Urea 15kg + Sp36 25 kg + KCL 5 kg + kieserite 2 kg/ha, disebarkan disamping kacangan
Sp36 75kg/ha
Sp36 75kg/ha
Sp36 175kg/ha
Sp36 175kg/ha
Ket : daun kacangan harus dalam keadaan kering pada saat penebaran pupuk
Sabtu, 09 Mei 2009
EFEKTIVITAS PEMUPUKAN TANAMAN KARET
B. EFEKTIVITAS PEMUPUKAN TANAMAN KARET
Keberhasilan pemupukan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti :
1. Dosis pupuk
2. Jenis pupuk
3. Waktu dan frekuensi pemupukan
4. Cara pemupukan, dan
5. Pengendalian gulma.
Dosis pupuk seharusnya diberikan dalam jumlah yang cukup. Dosis pupuk yang terlalu sedikit. Hanya akan dimanfaatkan oleh jasad renik dalam tanah serta gulma, sedangkan tanaman utama mungkin kurang bisa memanfaatkannya.sebaliknya dosis pupuk yang terlalu tinggi,merupakan pemborosan.
Jenis pupuk yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan keperluan tanaman. Sebagai contoh, jika urea dan SP 36 merupakan dua jenis pupuk yang sangat diperlukan tanaman, maka pupuk tersebut harus harus diberikan.
Waktu, frekuensi, dan cara pemupukan juga harus tepat sehingga tanaman dapat memanfaatkan hara yang diberikan secara optimum sesuai stadia pertumbuhan.waktu pemupukan disesuaikan dengan umur tanaman dan kondisi kelembaban tanah. Sebagai pedoman,pemupukan sebaiknya dilakukan setelah hujan turun.pada pembibitan yang pengairannya dapat diatur, pemupukan dapat dllakukan kapan saja
Kira – kira satu minggu sebelum pemupukan perlu dilakukan pengendalian gulma untuk mengurangi kompetisi terhadap pupuk. Gulma di pembibitan dibersikan dengan cara pen – cangkulan ringan, sedangkan gulma di polibeg dibersikan dengan cara pencabutan. Untuk tanaman di lapangan, baik tanaman belum menghasilkan maupun yang telah menghasilkan, gulma dapat dikendalikan dengan cara manual maupun dengan menggunakan herbisida. Jari – jari piringan pohon atau lebar jalur tanaman yang dibersihkan disesuaikan dengan umur tanaman.
Keberhasilan pemupukan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti :
1. Dosis pupuk
2. Jenis pupuk
3. Waktu dan frekuensi pemupukan
4. Cara pemupukan, dan
5. Pengendalian gulma.
Dosis pupuk seharusnya diberikan dalam jumlah yang cukup. Dosis pupuk yang terlalu sedikit. Hanya akan dimanfaatkan oleh jasad renik dalam tanah serta gulma, sedangkan tanaman utama mungkin kurang bisa memanfaatkannya.sebaliknya dosis pupuk yang terlalu tinggi,merupakan pemborosan.
Jenis pupuk yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan keperluan tanaman. Sebagai contoh, jika urea dan SP 36 merupakan dua jenis pupuk yang sangat diperlukan tanaman, maka pupuk tersebut harus harus diberikan.
Waktu, frekuensi, dan cara pemupukan juga harus tepat sehingga tanaman dapat memanfaatkan hara yang diberikan secara optimum sesuai stadia pertumbuhan.waktu pemupukan disesuaikan dengan umur tanaman dan kondisi kelembaban tanah. Sebagai pedoman,pemupukan sebaiknya dilakukan setelah hujan turun.pada pembibitan yang pengairannya dapat diatur, pemupukan dapat dllakukan kapan saja
Kira – kira satu minggu sebelum pemupukan perlu dilakukan pengendalian gulma untuk mengurangi kompetisi terhadap pupuk. Gulma di pembibitan dibersikan dengan cara pen – cangkulan ringan, sedangkan gulma di polibeg dibersikan dengan cara pencabutan. Untuk tanaman di lapangan, baik tanaman belum menghasilkan maupun yang telah menghasilkan, gulma dapat dikendalikan dengan cara manual maupun dengan menggunakan herbisida. Jari – jari piringan pohon atau lebar jalur tanaman yang dibersihkan disesuaikan dengan umur tanaman.
GEJALA TANAMAN KARET YANG MEMERLUKAN PEMUPUKAN
A. GEJALA TANAMAN KARET YANG MEMERLUKAN PEMUPUKAN
Secara umum tanaman karet yang kurang kurang atau tidak mendapatkan pemupukan yang sempurna akan menunjukkan gejala sbb:
1. Tanaman kerdil
2. Daun bewarna cokelat dengan ukuran agak kecil
3. Ukuran lilit batang lebih kecil dari ukuran standar
4. Periode tanaman belum menghasilkan dari 6 tahun
5. Prediksi karet kering jauh dari angka taksiran
6. Angka N, P, K dan MG pada daun dan tanah berada dibawah angka optimum / rendah ( tes lab ) .
Beberapa hasil percobaan menunjukkan dengan pemupukan yang intensif masa TBM dapat dipersingkat menjadi 4 tahun dan produksi dapat ditingkatkan hingga
15% - 56 %
Secara umum tanaman karet yang kurang kurang atau tidak mendapatkan pemupukan yang sempurna akan menunjukkan gejala sbb:
1. Tanaman kerdil
2. Daun bewarna cokelat dengan ukuran agak kecil
3. Ukuran lilit batang lebih kecil dari ukuran standar
4. Periode tanaman belum menghasilkan dari 6 tahun
5. Prediksi karet kering jauh dari angka taksiran
6. Angka N, P, K dan MG pada daun dan tanah berada dibawah angka optimum / rendah ( tes lab ) .
Beberapa hasil percobaan menunjukkan dengan pemupukan yang intensif masa TBM dapat dipersingkat menjadi 4 tahun dan produksi dapat ditingkatkan hingga
15% - 56 %
PEMUPUKAN Pada saai ini pemupukan menjadi semakin penting karena perkebunan karet menggunakan klon-klon unggul. Pemkaian klon unggul yang ber
PEMUPUKAN
Pada saai ini pemupukan menjadi semakin penting karena perkebunan karet menggunakan klon-klon unggul. Pemkaian klon unggul yang berproduktivitas tinggi akan meningkatkan jumlah hara yang terkuras dari tanah yang pada akhirnya memerlukan tambahan hara melalui pemupukan.
Oleh karena itu pada dasarnya Pemupukan bertujuan untuk :
1. mempertahankan kesuburan tanah serta menjaga kelestariannya
2. menjaga keseimbangan hara tanah dan tanamannya
3. meningkatkan pertumbuhan tanaman
4. meningkatkan dan mempertahankan produksi
5. meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit.
Pada saai ini pemupukan menjadi semakin penting karena perkebunan karet menggunakan klon-klon unggul. Pemkaian klon unggul yang berproduktivitas tinggi akan meningkatkan jumlah hara yang terkuras dari tanah yang pada akhirnya memerlukan tambahan hara melalui pemupukan.
Oleh karena itu pada dasarnya Pemupukan bertujuan untuk :
1. mempertahankan kesuburan tanah serta menjaga kelestariannya
2. menjaga keseimbangan hara tanah dan tanamannya
3. meningkatkan pertumbuhan tanaman
4. meningkatkan dan mempertahankan produksi
5. meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit.
TANAMAN SELA KARET
TANAMAN SELA KARET
Tanaman sela karet merupakan usaha pendukung untuk mengoptimalkan usaha tani karet yakni sebagai tambahan sumber pendapatan baik pada masa tanaman karet belum menghasilkan serta sebagai peningkatan daya guna tenaga kerja , pupuk dll yang bermanfaat bagi tanaman karet dan tanaman sela. Pola tanaman sela bagi perkebunan karet dapat dibagi dua yakni tahap Pola tanaman sela pada usia tanam karet sebelum 3 tahun dan pola tanaman sela pada usia karet lebih dari 3 tahun.
Pola tanaman sela sebelum tiga tahun menggunakan Pola Tanaman Pangan, Pola Pisang dan Nenas, Pola Cabe, Pola Semangka, pada pola tanaman pangan tanaman yang digunakan jagung + padi gogo – kedele – kacang tunggak, tanaman jagung dan padi gogo ditumpangsarikan sedangkan kedele dan kacang tunggak ditumpanggilirkan .Pada pola tanaman pisang + nenas juga dilakukan secara tumpang sari. Pola cabe ditanam dengan biji yang disemaikan terlebih dahulu dan dipindahkan kelapangan oada saat usia bibit memasuki satu bulan . Pada pola semangka varietas yang ditanam pada umumnya adalah varietas lokal seperti sugar baby dan new dragon.
Pola tanaman setelah karet berumur tiga tahun dilakukan karena tajuk (kerindangan) pohon pada tahun ke empat sudah selebar 4m – 6m dan perakarannya sudah melebihi 3,5 m. hal ini menyebabkan penggunaan lahan gawangan karet mulai terbatas terutama dari faktor intensitas sinar matahari, selain faktor hidromineral, Pemilihan tanaman sela harus didasarkan kepada kemampuannya beradaptasi pada kondisi naungan.Pola tanaman sela karet berumur tiga tahun menggunakan Pola Kapulaga dan Pola jahe, Temulawak,dan Kunyit. Pola Kapulaga merupakan salaha satu komoditas ekspor yang potensial hasil tanaman ini diperlukan untuk industri obat-obataan dan kosmetika, secara umun terdapat dua jenis kapulaga yakni kapulaga abrang ( elletaria cardanum) dan kapulaga local ( amomum cardamun). Bahan yang digunakan pada umumnya adalah akar Rimpang atau Anakannya. Begitupun pada pola Jahe,temulawak dan kunyit bahan tanaman yang umumnya digunakan adalah rimpangnya .
Tanaman sela karet merupakan usaha pendukung untuk mengoptimalkan usaha tani karet yakni sebagai tambahan sumber pendapatan baik pada masa tanaman karet belum menghasilkan serta sebagai peningkatan daya guna tenaga kerja , pupuk dll yang bermanfaat bagi tanaman karet dan tanaman sela. Pola tanaman sela bagi perkebunan karet dapat dibagi dua yakni tahap Pola tanaman sela pada usia tanam karet sebelum 3 tahun dan pola tanaman sela pada usia karet lebih dari 3 tahun.
Pola tanaman sela sebelum tiga tahun menggunakan Pola Tanaman Pangan, Pola Pisang dan Nenas, Pola Cabe, Pola Semangka, pada pola tanaman pangan tanaman yang digunakan jagung + padi gogo – kedele – kacang tunggak, tanaman jagung dan padi gogo ditumpangsarikan sedangkan kedele dan kacang tunggak ditumpanggilirkan .Pada pola tanaman pisang + nenas juga dilakukan secara tumpang sari. Pola cabe ditanam dengan biji yang disemaikan terlebih dahulu dan dipindahkan kelapangan oada saat usia bibit memasuki satu bulan . Pada pola semangka varietas yang ditanam pada umumnya adalah varietas lokal seperti sugar baby dan new dragon.
Pola tanaman setelah karet berumur tiga tahun dilakukan karena tajuk (kerindangan) pohon pada tahun ke empat sudah selebar 4m – 6m dan perakarannya sudah melebihi 3,5 m. hal ini menyebabkan penggunaan lahan gawangan karet mulai terbatas terutama dari faktor intensitas sinar matahari, selain faktor hidromineral, Pemilihan tanaman sela harus didasarkan kepada kemampuannya beradaptasi pada kondisi naungan.Pola tanaman sela karet berumur tiga tahun menggunakan Pola Kapulaga dan Pola jahe, Temulawak,dan Kunyit. Pola Kapulaga merupakan salaha satu komoditas ekspor yang potensial hasil tanaman ini diperlukan untuk industri obat-obataan dan kosmetika, secara umun terdapat dua jenis kapulaga yakni kapulaga abrang ( elletaria cardanum) dan kapulaga local ( amomum cardamun). Bahan yang digunakan pada umumnya adalah akar Rimpang atau Anakannya. Begitupun pada pola Jahe,temulawak dan kunyit bahan tanaman yang umumnya digunakan adalah rimpangnya .
PERSIAPAN TANAM DAN PENANAMAN TANAMAN KARET DILAPANGAN
PERSIAPAN TANAM DAN PENANAMAN TANAMAN KARET
DILAPANGAN
A. Persiapan tanam
Penanaman bibit tanaman harus memilih waktu yang tepat dan pengelolaan lahan tanam dan jarak tanam yang baik agar terhindar dari tingginya angka kematian dilapangan .
Persiapan tanam sebaiknya selesai dilakukan satu bulan sebelum penanaman . kegiatan persiapan tanam terdiri dari Pengajiran ( jalur tanam & jarak tanam ) dan Pembuatan Lubang Tanam . Jumlah tanaman karet dalam satu hektar berkisar antara 500 – 600 tanaman/hektar yang dibuat berdasarkan variasi jarak tanam.dan kondisi lahan tanam . pola tanaman karet pada umumnya menggunakan jarak tanam 7 x 3 meter, jarak tanam 7 m diletakkan pada arah utara – selatan dan jarak tanam 3 meter diletakkan pada arah timur – barat hal ini dilakukan jika direncanakan tanaman pangan untuk tanaman sela maka persaingan didalam mendapatkan sinar matahari dapat diatasi.
Pembuatan lubang tanam diusahakan tidak memindahkan ajir, caranya lubang dibuat dengan jarak 20cm dari posisi ajir . ukuran lubang disesuaikan dengan bahan tanam yang digunakan, untuk bibit Stum mata Tidur, Stum Mini dan Bibit Dalam Polybag kedalaman lubang dibuat sedalam 40 cm , panjangnya 40 cm dan lebar 40 cm, sedangkan khusus Stum Tinggi kedalaman lubang 60 cm, panjangnya 60 cm dan lebar 60 cm . Pada saat penggalian lubang pisahkan antara tanah bagian atas(topsoil) dan tanah bagian bawah(subsoil), bila bahan tanam yang digunakan menggunakan stum mata tidur & stum mini usahakan kondisi mata okulasi dalam keadaan membengkak , kondisi ini dapat diperoleh dengan cara menunda pencabutan bibit minimal seminggu dari waktu pemotongan dan jika bahan tanam yang digunakan bibit dalam polybag daunnya harus dalam keadaan tua .
B. Penanaman
Penanaman dilakukan dengan cara memasukkan bibit ketengah2 lubang kemudian ditimbun dengan tanah bawah (subsoil) dan selanjutnya tanah bagian atas (topsoil).bila menggunakan bahan tanam stum mata tidur, mini dan tinggi pemadatan tanah dilakukan dengan cara bertahap sehingga timbunan menjadi padat dan merata, sehingga apabila digoyang tidak mudah lepas ataupun tercabut. Dan jika bahan tanam yang digunakan bibit dalam polybag pemadatan disekeliling tanah cukup dilakukan dengan tangan. Penginjakan dengan menggunakan kaki disekeliling tanaman tidak dianjurkan karena akan menyebabkan bergesernya kolom tanah dan berakibat kematian tanaman. Dua minggu setelah penanaman, tanah disekeliling tanaman biasanya mencekung hal ini perlu dilakukan penambahan tanah agar rata dengan permukaan tanah disekelilingnya .
C. Penyulaman
Bibit yang baru ditanam sebaiknya diperiksa dua minggu sekali selama tiga bulan pertama stelah penanaman , hal ini dilakukan untuk melakukan penyulaman bila ada bibit yang mati . penyulaman sebaiknya dilakukan dengan bahan tanam yang mempunyai umur realatif sama atau lebih tua dari tanamn yang disulam , jika penyulaman dilakukan pada tahun kedua dan merupakan penyulaman terakhir maka bahan sun tanam sulam harus menggunakan Stum Tinggi.
D. Pembuangan tunas Palsu
Tunas palsu adalah tunas-tunas yang tumbuh tidak pada mata okulasi, Tunas palsu dapat menghambat tumbuhnya mata okulasi dan bahnkan menyebabkan mata okulasi tidak tumbuh sama sekali oleh karena itu tunas palsu mesti dibuang . pemotongan tunas palsu harus dilakukan sebelum tunas berkayu, tunas yang bagus untuk dipelihara yaitu tunas yang tumbuh dari mata okulasi .
E. Pembuanganan Tunas cabang .
Pembuangan tunas cabang perlu dilakukan untuk mendapatkan bidang sadap yang baik berbentuk, bundar, lurus, dan tegak dan tinggi.Tunas yang tumbuh pada ketinggian diatas 2,5 – 3m dibiarkan dan tunas yang tumbuh dibawah 2,5 – 3m harus dibuang, pembuangan dilakukan sebelum tunas berkayu karena akan sukar dipotong dan akan merusak batang apabila pemotongan kurang hati-hati .
F. Perangsangan Percabangan .
Pertumbuhan tanaman karet muda sering meninggi tanpa membentuk cabang tanaman seperti ini akan terlambat mencapai matang sadap, selain itu pada bagian ujung akan mudah bengkok oleh angin akibatnya akan tumbuh tunas cabang pada salah satu sisi dan tumbuhnya tidak simetris sehingga mudah patah oleh angin. Beberapa klon yang muda patah adalah GT 1 dan RRIM 600.
Ketinggian cabang yang dianjurkan umumnya 2,5 - 3m dari atas pertautan okulasi klon yang pertumbuhannya cabangnya lambat dan baru tumbuh diatas 3 m perlu dilakukan perangsangan dengan cara :
1. Membuang tunas muda yang baru tumbuh diatas daun payung teratas dari pertautan okulasi cara ini akan menghsilkan cabang yang banyak dan letaknya menumpuk sehingga tanaman akan mudah patah oleh angin
2. Daun payung teratas dalam kondisi hijau tua diikat dengan karet gelang, setelah 1 – 2 minggu calon tunas akan tumbuh pada ketiak daun maka ikatan harus segera dibuka dengan cara ini tunas batang utama akan tetap tumbuh keatas dan cabang yang dihasilkan posisinya bertingkat sehingga lebih tahan terhadap angin.
3. Dilakukan pengguguran daun pada posisi payung teratas yang sudah tua di ketinggian 2,5-3 m dengan cara dirompes/dipetik sebagian dan disisakan 2-3 tangkai daun . tiga minggu kemudian tunas calon cabang akan tumbuh. Pengguguran diulang 3 bulan kemudian pada tanaman yang belum membentuk cabang . cabang yang bertingkat dipelihara agar tanaman lebih kuat terhadap angin kencang dan serangan jamur upas. Cara ini kurang efisisen karena harus dilakukan berulang ulang .
4. Batang pada ketinggian 2,5-3 m dililitkan kawat, setelah beberapa minggu tanaman akan membentuk cabang ,tetapi hal ini jarang dilakukan karena terlalu banyak memakan waktu sehingga kurang efisien dan juga tidak tahan terhadap angin kencang dan jamur upas.
5. pengeratan barang dapat dilakukan dengan menggunakan pisu khusus yang disebut double blade ring cute, tingkat keberhassilan ini cukup tinggi namun memerlukan waktu banyak , alat dan tenaga yang terampil .
6. pemenggalan dilakukan pada ketinggian 2,5-3 m sedikit diatas bekas mata daun dilakukan pada usia tanaman +/- 24 bulan , arah potongan dibuat miring dan luka bekas potongan hendaknya ditutup dengan TB 192, biasanya tunas yang tumbuh lebih dari 10 tunas sehingga perlu dijarangkan menjadi 3- 4 tunas yang seimbang, pembentukan cabang dengan cara ini dapat berhasil dengan baik dan cukup efisien namun rentan terhadap jamur upas.
DILAPANGAN
A. Persiapan tanam
Penanaman bibit tanaman harus memilih waktu yang tepat dan pengelolaan lahan tanam dan jarak tanam yang baik agar terhindar dari tingginya angka kematian dilapangan .
Persiapan tanam sebaiknya selesai dilakukan satu bulan sebelum penanaman . kegiatan persiapan tanam terdiri dari Pengajiran ( jalur tanam & jarak tanam ) dan Pembuatan Lubang Tanam . Jumlah tanaman karet dalam satu hektar berkisar antara 500 – 600 tanaman/hektar yang dibuat berdasarkan variasi jarak tanam.dan kondisi lahan tanam . pola tanaman karet pada umumnya menggunakan jarak tanam 7 x 3 meter, jarak tanam 7 m diletakkan pada arah utara – selatan dan jarak tanam 3 meter diletakkan pada arah timur – barat hal ini dilakukan jika direncanakan tanaman pangan untuk tanaman sela maka persaingan didalam mendapatkan sinar matahari dapat diatasi.
Pembuatan lubang tanam diusahakan tidak memindahkan ajir, caranya lubang dibuat dengan jarak 20cm dari posisi ajir . ukuran lubang disesuaikan dengan bahan tanam yang digunakan, untuk bibit Stum mata Tidur, Stum Mini dan Bibit Dalam Polybag kedalaman lubang dibuat sedalam 40 cm , panjangnya 40 cm dan lebar 40 cm, sedangkan khusus Stum Tinggi kedalaman lubang 60 cm, panjangnya 60 cm dan lebar 60 cm . Pada saat penggalian lubang pisahkan antara tanah bagian atas(topsoil) dan tanah bagian bawah(subsoil), bila bahan tanam yang digunakan menggunakan stum mata tidur & stum mini usahakan kondisi mata okulasi dalam keadaan membengkak , kondisi ini dapat diperoleh dengan cara menunda pencabutan bibit minimal seminggu dari waktu pemotongan dan jika bahan tanam yang digunakan bibit dalam polybag daunnya harus dalam keadaan tua .
B. Penanaman
Penanaman dilakukan dengan cara memasukkan bibit ketengah2 lubang kemudian ditimbun dengan tanah bawah (subsoil) dan selanjutnya tanah bagian atas (topsoil).bila menggunakan bahan tanam stum mata tidur, mini dan tinggi pemadatan tanah dilakukan dengan cara bertahap sehingga timbunan menjadi padat dan merata, sehingga apabila digoyang tidak mudah lepas ataupun tercabut. Dan jika bahan tanam yang digunakan bibit dalam polybag pemadatan disekeliling tanah cukup dilakukan dengan tangan. Penginjakan dengan menggunakan kaki disekeliling tanaman tidak dianjurkan karena akan menyebabkan bergesernya kolom tanah dan berakibat kematian tanaman. Dua minggu setelah penanaman, tanah disekeliling tanaman biasanya mencekung hal ini perlu dilakukan penambahan tanah agar rata dengan permukaan tanah disekelilingnya .
C. Penyulaman
Bibit yang baru ditanam sebaiknya diperiksa dua minggu sekali selama tiga bulan pertama stelah penanaman , hal ini dilakukan untuk melakukan penyulaman bila ada bibit yang mati . penyulaman sebaiknya dilakukan dengan bahan tanam yang mempunyai umur realatif sama atau lebih tua dari tanamn yang disulam , jika penyulaman dilakukan pada tahun kedua dan merupakan penyulaman terakhir maka bahan sun tanam sulam harus menggunakan Stum Tinggi.
D. Pembuangan tunas Palsu
Tunas palsu adalah tunas-tunas yang tumbuh tidak pada mata okulasi, Tunas palsu dapat menghambat tumbuhnya mata okulasi dan bahnkan menyebabkan mata okulasi tidak tumbuh sama sekali oleh karena itu tunas palsu mesti dibuang . pemotongan tunas palsu harus dilakukan sebelum tunas berkayu, tunas yang bagus untuk dipelihara yaitu tunas yang tumbuh dari mata okulasi .
E. Pembuanganan Tunas cabang .
Pembuangan tunas cabang perlu dilakukan untuk mendapatkan bidang sadap yang baik berbentuk, bundar, lurus, dan tegak dan tinggi.Tunas yang tumbuh pada ketinggian diatas 2,5 – 3m dibiarkan dan tunas yang tumbuh dibawah 2,5 – 3m harus dibuang, pembuangan dilakukan sebelum tunas berkayu karena akan sukar dipotong dan akan merusak batang apabila pemotongan kurang hati-hati .
F. Perangsangan Percabangan .
Pertumbuhan tanaman karet muda sering meninggi tanpa membentuk cabang tanaman seperti ini akan terlambat mencapai matang sadap, selain itu pada bagian ujung akan mudah bengkok oleh angin akibatnya akan tumbuh tunas cabang pada salah satu sisi dan tumbuhnya tidak simetris sehingga mudah patah oleh angin. Beberapa klon yang muda patah adalah GT 1 dan RRIM 600.
Ketinggian cabang yang dianjurkan umumnya 2,5 - 3m dari atas pertautan okulasi klon yang pertumbuhannya cabangnya lambat dan baru tumbuh diatas 3 m perlu dilakukan perangsangan dengan cara :
1. Membuang tunas muda yang baru tumbuh diatas daun payung teratas dari pertautan okulasi cara ini akan menghsilkan cabang yang banyak dan letaknya menumpuk sehingga tanaman akan mudah patah oleh angin
2. Daun payung teratas dalam kondisi hijau tua diikat dengan karet gelang, setelah 1 – 2 minggu calon tunas akan tumbuh pada ketiak daun maka ikatan harus segera dibuka dengan cara ini tunas batang utama akan tetap tumbuh keatas dan cabang yang dihasilkan posisinya bertingkat sehingga lebih tahan terhadap angin.
3. Dilakukan pengguguran daun pada posisi payung teratas yang sudah tua di ketinggian 2,5-3 m dengan cara dirompes/dipetik sebagian dan disisakan 2-3 tangkai daun . tiga minggu kemudian tunas calon cabang akan tumbuh. Pengguguran diulang 3 bulan kemudian pada tanaman yang belum membentuk cabang . cabang yang bertingkat dipelihara agar tanaman lebih kuat terhadap angin kencang dan serangan jamur upas. Cara ini kurang efisisen karena harus dilakukan berulang ulang .
4. Batang pada ketinggian 2,5-3 m dililitkan kawat, setelah beberapa minggu tanaman akan membentuk cabang ,tetapi hal ini jarang dilakukan karena terlalu banyak memakan waktu sehingga kurang efisien dan juga tidak tahan terhadap angin kencang dan jamur upas.
5. pengeratan barang dapat dilakukan dengan menggunakan pisu khusus yang disebut double blade ring cute, tingkat keberhassilan ini cukup tinggi namun memerlukan waktu banyak , alat dan tenaga yang terampil .
6. pemenggalan dilakukan pada ketinggian 2,5-3 m sedikit diatas bekas mata daun dilakukan pada usia tanaman +/- 24 bulan , arah potongan dibuat miring dan luka bekas potongan hendaknya ditutup dengan TB 192, biasanya tunas yang tumbuh lebih dari 10 tunas sehingga perlu dijarangkan menjadi 3- 4 tunas yang seimbang, pembentukan cabang dengan cara ini dapat berhasil dengan baik dan cukup efisien namun rentan terhadap jamur upas.
LANGKAH-LANGKAH PEMBUATAN BIBIT KARET KLON UNGGUL
LANGKAH-LANGKAH PEMBUATAN BIBIT KARET KLON UNGGUL
• Terdiri dari beberapa tahap :
1. Pembuatan batang bawah (tempat melekatnya mata okulasi/entress/bakal bibit)
2. Pembuatan kebun entress ( kebun unggul turunan/pohon sumber mata okulasi )
3. Penyiapan bahan tanam ( Stum mata tidur , Stum mini , Bibit dalam polybag dan Stum tinggi .
1. Pembuatan Batang Bawah
Pembuatan batang bawah dilakukan dengan memilih benih yang berasal dari biji terpilih ” propelligitim “ yaitu biji yang diketahui pohon induknya berasal dari klon-klon anjuran untuk batang bawah , seperti GT 1, PR 300, PR 228, AVROS 2037, LCB 1320, PB 260, RRIC 100, dan BPM 24 .areal tempat pemungutan biji diharuskan mempunyai batas ( daerah yang tidak boleh dipungut bijinya ) selebar 100 m hal ini dimaksudkan untuk menghindari terpungutnya biji yang berasal dari tanaman induk tetangga yang jenis klonnya tidak teridentifikasi .Biji yang baik tidak berongga dan mempunyai endosperm penuh dan berwarna putih kekuningan, apabila dipantulkan diatas lantai atau semen biji akan memantul dan direndam akan mengambang ( tidak timbul atau tenggelam) .setelah diperoleh biji yang bermutu baik selanjutnya dilakukan persemaian. Tempat persemaian benih harus memiliki suhu udara yang lembab untuk itu harus diberi naungan/atap dan disemai diatas pasir atau serbuk gergaji ,agar tumbuh dengan baik sebaiknya jangan ditebar melainkan disusun berjajar dengan jarak tanam antar biji 1 cm setelah 5 – 21 hari biji akan menjadi kecambah , kecambah yang muncul lebih dari 21 hari sebaiknya tidak digunakan karena pertumbuhannya terhambat , setelah itu dilakukan penanaman diareal pembibitan yang telah digemburkan dan dibentuk pola segi empat , lahan diusahakan bebas dari sisa akar dan kayu untuk mencegah penyebaran jamur akar putih, untuk pupuk dasar dianjurkan menggunakan fosfat alam (RP)ndengan dosis 600kg-1200kg/ha , pembibitan dilakukan dengan pola tanam 20 x 20 x 50 cm atau 40 x 40 x 50 cm . untuk selanjutnya dilakukan pemeliharaan tanaman agar batang bawah dapat tumbuh dengan sempurna hingga mencapai masa okulasi atau lilit batang telah berkisar antara 5 – 7 cm diukur pada ketinggian 5 cm dari permukaan tanah , okulasi sebaiknya dilakukan pada saat tunas ujung dalam keadaan tidur atau daun tua .
2. Pembuatan kebun entress ( pohon sumber mata okulasi )
Penanaman kebun entres merupakan bagian terpenting dalam proses penyediaan bibit karet klon unggul karena untuk mendapatkan hasil tanam yang baik diperlukan entres yang baik. Mata okulasi dapat diambil dari dua sumber yakni berupa entres cabang dari kebun produksi( kebun penghasil lateks) atau entres dari kebun entres murni tetapi yang paling baik adalah entres yang diperoleh dari kebun entres murni karena entress cabang akan menghasilkan tanaman yang tidak seragam dan keberhasilan okulasinya rendah selain itu pengambilan entres akan mengganggu tanaman pokoknya . okulasi merupakan salah satu cara metode budidaya tanaman yang dilakukan dengan menempelkan mata entres yang diperoleh dari kebun entrés murni ke tanaman batang bawah dari satu tanaman ke tanaman sejenis untuk mendapatkan sifat unggul yang sama . dari hasil okulasi akan diperoleh bahan tanaman karet unggul berupa stum mata tidur , stum mini , bibit dalam polybag atau stum tinggi yang nantinya akan menjadi pohon produksi dan pohon entres.
Ada tiga macam teknik okulasi pada tanaman karet, yaitu Okulasi Dini(OD), Okulasi Hijau(OH) dan Okulasi Cokelat(OH) , perbedaan terletak pda umur batang bawah( OD 2 s/d 3 bulan , OH 4 s/d 6 bulan, OC 8 s/d 18 bulan ) . Pembuatan jendela okulasi merupakan tempat menempelnya mata okulasi yang diambil dari kebun entres, untuk mendapatkan hasil okulasi yang baik batang bawah sebaiknya dibersihkan dari kotoran/tanah kemudian diiris veritikal pada bagian kulit hingga menyentuh batas kambium .irisan sejajar dibuat dua buah dengan ketinggian 5-10cm dari permukaan tanah dengan panjang irisan 5-7 cm dan lebar irisan 1/3 lilit batang , selanjutnya dibuat potongan melintang kedua ujung salah satu irisan vertikal dan dibukakan sedikit. Selanjutnya persiapan mata okulasi yang diambil dari entres klon unggul , mata okulasi akan diokulasikan pada batang bawah yang sudah dibuat jendela okulasinya . mata okulasi yang baik diambil dari mata yang berada di bekas ketiak daun, mata okulasi diiris dengan ukuran lebar 1cm dan panjang 5-7cm , untuk bukaan jendela okulasi dari atas, posisi mata entres menghadap keatas dan untuk bukaan dari bawah mata entres menghadap kebawah, penyayatan mata okulasi dilakukan dengan mengikutsertakan sedikit bagian kayu , lepaskan kulit dari kayu dengan hati-hati dengan cara menarik bagian kayu yang ikut tersayat, mata okulasi diusahakan tidak tergores dan kotor, mata okulasi yang baik pada bagian dalam ada titik putih yang menonjol, apabila kulit bagian dalam berlubang berarti matanya tertinggal pada bagian kayu , mata okulasi seperti ini tidak boleh digunakan ,mata okulasi disisipkan kedalam jendela okulasi , penempelan mata okulasi segera dilakukan pada saat jendela okulasi dibuka dan mata okulasi disayat kemudian tutup jendela okulasi dengan cara menekan bagian ujung jendela bagian mata okulasi, bagian yang tidak ikut masuk kedalam jendela okulasi harus dipotong dan dibuang , jendela okulasi yang sudah ditutup dibalut dengan menggunakan pembalut pita plastik okulasi agar terlindung dari air dan kotoran.
setelah okulasi berumur 2-3 minggu, balutan okulasi dapat dibuka untuk diperiksa keberhasilannya. Balutan dibuka dengan cara mengiris plastik okulasi selanjutnya jendela okulasi dibuka dengan cara memotong lidah jendela.Keberhasilan okulasi dapat diketahui dengan cara membuat sayatan kecil pada mata okulasi diluar matanya , apabila berwarna hijau berarti okulasi dinyatakan berhasil .
3. Penyiapan Bahan Tanam ( Stum mata tidur , Stum mini , Bibit dalam polybag dan Stum tinggi )
Penyiapan bahan tanam dilakukan setelah okulasi dinyatakan berhasil , bahan tanam dapat berbentuk Stum mata tidur , Stum mini , Bibit dalam polybag dan Stum tinggi . perbedaan bahan tanam tersebut terletak pada proses masa pertumbuhan, untuk Stum mata tidur lebih kurang 2 - 3 minggu artinya bibit sudah dapat dijadikan bahan tanam stum mata tidur saat usia okulasi tanaman batang bawah telah mencapai 2 - 3 minggu, keuntungan penggunaan stum mata tidur waktu penyiapannya tidak terlalu lama sehingga harganya relatif murah kelemahan terletak pada tingkat kematian yang tinggi antara 15 s/d 20 % selain itu ada kemungkinan tumbuh tunas palsu dan masa pertumbuhan tanaman kurang seragam . Untuk stum mini proses masa pertumbuhan untuk bahan tanam membutuhkan waktu 6 – 8 bulan usia okulasi batang bawah, keuntungan penggunaan stum mini adalah persentase kematian lebih rendah , bebas tunas palsu , masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) lebih singkat. Kelemahan stum mini adalah penyiapan waktu yang relatif lama dan harganya relatif lebih mahal . Bahan tanaman Bibit Dalam Polybag adalah Stum mata tidur/stum mini yang ditumbuhkan kedalam polybag sampai mempunyai satu atau dua payung, keuntungan bibit dalam polybag persentase kematian yang rendah, pertumbuhan yang seragam, penularan penyakit dari pembibitan dapat terhindari, dan masa TBM lebih singkat dibanding Stum mata tidur kelemahan terletak pada proses penyiapan yang lebih lama, proses pengangkutan yang lebih rumit, dan harganya relatif lebih mahal. Untuk Bahan tanam Stum Tinggi adalah bibit hasil okulasi yang ditumbuhkan dipembibitan selama 2 – 3 tahun , stum tinggi biasanya digunakan untuk penyulaman dan jarang diusahakan secara komersil . keuntungan penggunaan stum tinggi pertumbuhan lebih seragam dan masa TBM lebih singkat dibandingkan tanaman lainnya. Kelemahan terletak pada waktu penyiapan yang sangat lama dan harganya relatif mahal.
Proses pencabutan bahan tanaman tersebut relatif sama yakni tanaman batang bawah dipotong miring pada ketinggian 30 – 50 cm dari mata okulasi selanjutnya bekas potongan diolesi dengan Tb 192 atau parafin . setelah dipotong tanaman batang bawah sebaiknya dicabut setelah 2 – 3 minggu untuk dijadikan bahan tanaman , setelah dicabut lakukan penyeleksian bibit yang baik adalah bibit yang mempunyai akar tunggang lurus yang mempunyai panjang minimal 35cm bila akarnya bercabang dua atau tiga sebaiknya satu atau dua akar yang terkecil sebaiknya dipotong dan lukanya sebaiknya diolesi Tb 192. bahan tanaman yang mata okulasinya rusak atau akarnya bercabang dan membengkok sebaiknya tidak digunakan .
• Terdiri dari beberapa tahap :
1. Pembuatan batang bawah (tempat melekatnya mata okulasi/entress/bakal bibit)
2. Pembuatan kebun entress ( kebun unggul turunan/pohon sumber mata okulasi )
3. Penyiapan bahan tanam ( Stum mata tidur , Stum mini , Bibit dalam polybag dan Stum tinggi .
1. Pembuatan Batang Bawah
Pembuatan batang bawah dilakukan dengan memilih benih yang berasal dari biji terpilih ” propelligitim “ yaitu biji yang diketahui pohon induknya berasal dari klon-klon anjuran untuk batang bawah , seperti GT 1, PR 300, PR 228, AVROS 2037, LCB 1320, PB 260, RRIC 100, dan BPM 24 .areal tempat pemungutan biji diharuskan mempunyai batas ( daerah yang tidak boleh dipungut bijinya ) selebar 100 m hal ini dimaksudkan untuk menghindari terpungutnya biji yang berasal dari tanaman induk tetangga yang jenis klonnya tidak teridentifikasi .Biji yang baik tidak berongga dan mempunyai endosperm penuh dan berwarna putih kekuningan, apabila dipantulkan diatas lantai atau semen biji akan memantul dan direndam akan mengambang ( tidak timbul atau tenggelam) .setelah diperoleh biji yang bermutu baik selanjutnya dilakukan persemaian. Tempat persemaian benih harus memiliki suhu udara yang lembab untuk itu harus diberi naungan/atap dan disemai diatas pasir atau serbuk gergaji ,agar tumbuh dengan baik sebaiknya jangan ditebar melainkan disusun berjajar dengan jarak tanam antar biji 1 cm setelah 5 – 21 hari biji akan menjadi kecambah , kecambah yang muncul lebih dari 21 hari sebaiknya tidak digunakan karena pertumbuhannya terhambat , setelah itu dilakukan penanaman diareal pembibitan yang telah digemburkan dan dibentuk pola segi empat , lahan diusahakan bebas dari sisa akar dan kayu untuk mencegah penyebaran jamur akar putih, untuk pupuk dasar dianjurkan menggunakan fosfat alam (RP)ndengan dosis 600kg-1200kg/ha , pembibitan dilakukan dengan pola tanam 20 x 20 x 50 cm atau 40 x 40 x 50 cm . untuk selanjutnya dilakukan pemeliharaan tanaman agar batang bawah dapat tumbuh dengan sempurna hingga mencapai masa okulasi atau lilit batang telah berkisar antara 5 – 7 cm diukur pada ketinggian 5 cm dari permukaan tanah , okulasi sebaiknya dilakukan pada saat tunas ujung dalam keadaan tidur atau daun tua .
2. Pembuatan kebun entress ( pohon sumber mata okulasi )
Penanaman kebun entres merupakan bagian terpenting dalam proses penyediaan bibit karet klon unggul karena untuk mendapatkan hasil tanam yang baik diperlukan entres yang baik. Mata okulasi dapat diambil dari dua sumber yakni berupa entres cabang dari kebun produksi( kebun penghasil lateks) atau entres dari kebun entres murni tetapi yang paling baik adalah entres yang diperoleh dari kebun entres murni karena entress cabang akan menghasilkan tanaman yang tidak seragam dan keberhasilan okulasinya rendah selain itu pengambilan entres akan mengganggu tanaman pokoknya . okulasi merupakan salah satu cara metode budidaya tanaman yang dilakukan dengan menempelkan mata entres yang diperoleh dari kebun entrés murni ke tanaman batang bawah dari satu tanaman ke tanaman sejenis untuk mendapatkan sifat unggul yang sama . dari hasil okulasi akan diperoleh bahan tanaman karet unggul berupa stum mata tidur , stum mini , bibit dalam polybag atau stum tinggi yang nantinya akan menjadi pohon produksi dan pohon entres.
Ada tiga macam teknik okulasi pada tanaman karet, yaitu Okulasi Dini(OD), Okulasi Hijau(OH) dan Okulasi Cokelat(OH) , perbedaan terletak pda umur batang bawah( OD 2 s/d 3 bulan , OH 4 s/d 6 bulan, OC 8 s/d 18 bulan ) . Pembuatan jendela okulasi merupakan tempat menempelnya mata okulasi yang diambil dari kebun entres, untuk mendapatkan hasil okulasi yang baik batang bawah sebaiknya dibersihkan dari kotoran/tanah kemudian diiris veritikal pada bagian kulit hingga menyentuh batas kambium .irisan sejajar dibuat dua buah dengan ketinggian 5-10cm dari permukaan tanah dengan panjang irisan 5-7 cm dan lebar irisan 1/3 lilit batang , selanjutnya dibuat potongan melintang kedua ujung salah satu irisan vertikal dan dibukakan sedikit. Selanjutnya persiapan mata okulasi yang diambil dari entres klon unggul , mata okulasi akan diokulasikan pada batang bawah yang sudah dibuat jendela okulasinya . mata okulasi yang baik diambil dari mata yang berada di bekas ketiak daun, mata okulasi diiris dengan ukuran lebar 1cm dan panjang 5-7cm , untuk bukaan jendela okulasi dari atas, posisi mata entres menghadap keatas dan untuk bukaan dari bawah mata entres menghadap kebawah, penyayatan mata okulasi dilakukan dengan mengikutsertakan sedikit bagian kayu , lepaskan kulit dari kayu dengan hati-hati dengan cara menarik bagian kayu yang ikut tersayat, mata okulasi diusahakan tidak tergores dan kotor, mata okulasi yang baik pada bagian dalam ada titik putih yang menonjol, apabila kulit bagian dalam berlubang berarti matanya tertinggal pada bagian kayu , mata okulasi seperti ini tidak boleh digunakan ,mata okulasi disisipkan kedalam jendela okulasi , penempelan mata okulasi segera dilakukan pada saat jendela okulasi dibuka dan mata okulasi disayat kemudian tutup jendela okulasi dengan cara menekan bagian ujung jendela bagian mata okulasi, bagian yang tidak ikut masuk kedalam jendela okulasi harus dipotong dan dibuang , jendela okulasi yang sudah ditutup dibalut dengan menggunakan pembalut pita plastik okulasi agar terlindung dari air dan kotoran.
setelah okulasi berumur 2-3 minggu, balutan okulasi dapat dibuka untuk diperiksa keberhasilannya. Balutan dibuka dengan cara mengiris plastik okulasi selanjutnya jendela okulasi dibuka dengan cara memotong lidah jendela.Keberhasilan okulasi dapat diketahui dengan cara membuat sayatan kecil pada mata okulasi diluar matanya , apabila berwarna hijau berarti okulasi dinyatakan berhasil .
3. Penyiapan Bahan Tanam ( Stum mata tidur , Stum mini , Bibit dalam polybag dan Stum tinggi )
Penyiapan bahan tanam dilakukan setelah okulasi dinyatakan berhasil , bahan tanam dapat berbentuk Stum mata tidur , Stum mini , Bibit dalam polybag dan Stum tinggi . perbedaan bahan tanam tersebut terletak pada proses masa pertumbuhan, untuk Stum mata tidur lebih kurang 2 - 3 minggu artinya bibit sudah dapat dijadikan bahan tanam stum mata tidur saat usia okulasi tanaman batang bawah telah mencapai 2 - 3 minggu, keuntungan penggunaan stum mata tidur waktu penyiapannya tidak terlalu lama sehingga harganya relatif murah kelemahan terletak pada tingkat kematian yang tinggi antara 15 s/d 20 % selain itu ada kemungkinan tumbuh tunas palsu dan masa pertumbuhan tanaman kurang seragam . Untuk stum mini proses masa pertumbuhan untuk bahan tanam membutuhkan waktu 6 – 8 bulan usia okulasi batang bawah, keuntungan penggunaan stum mini adalah persentase kematian lebih rendah , bebas tunas palsu , masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) lebih singkat. Kelemahan stum mini adalah penyiapan waktu yang relatif lama dan harganya relatif lebih mahal . Bahan tanaman Bibit Dalam Polybag adalah Stum mata tidur/stum mini yang ditumbuhkan kedalam polybag sampai mempunyai satu atau dua payung, keuntungan bibit dalam polybag persentase kematian yang rendah, pertumbuhan yang seragam, penularan penyakit dari pembibitan dapat terhindari, dan masa TBM lebih singkat dibanding Stum mata tidur kelemahan terletak pada proses penyiapan yang lebih lama, proses pengangkutan yang lebih rumit, dan harganya relatif lebih mahal. Untuk Bahan tanam Stum Tinggi adalah bibit hasil okulasi yang ditumbuhkan dipembibitan selama 2 – 3 tahun , stum tinggi biasanya digunakan untuk penyulaman dan jarang diusahakan secara komersil . keuntungan penggunaan stum tinggi pertumbuhan lebih seragam dan masa TBM lebih singkat dibandingkan tanaman lainnya. Kelemahan terletak pada waktu penyiapan yang sangat lama dan harganya relatif mahal.
Proses pencabutan bahan tanaman tersebut relatif sama yakni tanaman batang bawah dipotong miring pada ketinggian 30 – 50 cm dari mata okulasi selanjutnya bekas potongan diolesi dengan Tb 192 atau parafin . setelah dipotong tanaman batang bawah sebaiknya dicabut setelah 2 – 3 minggu untuk dijadikan bahan tanaman , setelah dicabut lakukan penyeleksian bibit yang baik adalah bibit yang mempunyai akar tunggang lurus yang mempunyai panjang minimal 35cm bila akarnya bercabang dua atau tiga sebaiknya satu atau dua akar yang terkecil sebaiknya dipotong dan lukanya sebaiknya diolesi Tb 192. bahan tanaman yang mata okulasinya rusak atau akarnya bercabang dan membengkok sebaiknya tidak digunakan .
Langganan:
Postingan (Atom)